Di sekitar daerah Muntilan, Magelang, Purworejo, Sleman, dan Yogyakarta, alat penghalus bumbu yang akrab dengan sebutan “Munthu” menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari para pengrajin. Namun, menariknya, di daerah lain, nama ini disebut dengan berbagai variasi seperti Muntu, Ulek-ulek, Ulekan, Ulegan, Uleg-uleg, atau bahkan Mutu. Meski begitu, sebagian besar tetap mengakui kehadiran Munthu sebagai alat khas penghalus bumbu.

Pemilihan istilah untuk Munthu ini sering kali mengikuti keunikan dialek setempat. Muntu, Ulek-ulek, Ulekan, Ulegan, Uleg-uleg, atau Mutu, semuanya merujuk pada alat penghalus bumbu yang dipahat dengan indah oleh para pengrajin batu, seperti yang kita lihat dalam gambar yang “hangat” baru selesai dipahat oleh Pengrajin Batu Dusun Sewan.

Terdapat perbedaan dalam penulisan dan penyebutan Munthu di daerah-daerah tertentu. Beberapa orang lebih suka menulisnya dengan Muntu, yang kadang-kadang membuat penyebutan ini lebih mirip dengan dialek Bali karena bunyi “tu” seharusnya dilafalkan dengan penebalan ke arah “thu”. Sementara itu, penulisan Munthu lebih mempertahankan keaslian penyebutan dalam bahasa Jawa.

Kalau dilihat dari bahasa Sunda, Munthu dikenal dengan sebutan Mutu. Ini menunjukkan sebaran penggunaan alat ini di seluruh Indonesia dengan variasi istilah sesuai dengan keberagaman budaya daerah.

Selain Munthu, ada istilah lain yang merujuk pada alat serupa, yaitu Ulek-ulek. Ulek-ulek atau Uleg-uleg adalah istilah yang sering digunakan di daerah Jawa Timur, seperti Tulungagung, Kediri, Blitar, Nganjuk, dan sekitarnya. Ulek-ulek ini merupakan pasangan dari lemper (cobek) dan juga digunakan untuk menghaluskan bumbu dengan cara yang tradisional.

Ulegan atau Ulekan Bumbu adalah istilah yang lebih umum dikenal di kalangan masyarakat. Meskipun lebih sederhana, istilah ini mencerminkan fungsi utama dari alat ini, yaitu untuk mengulek bumbu-bumbu dapur dengan tangan secara manual. Penggunaan nama Ulekan Bumbu menonjolkan cara tradisional dalam mengolah bumbu, yang berbeda dengan metode modern seperti blender atau gilingan.

Dalam testimoni dan pengalaman masyarakat, penggunaan Munthu dari batu merapi diklaim memberikan hasil penghalusan bumbu dengan aroma dan kelezatan yang unik. Keunikan ini sulit dicapai dengan menggunakan alat modern seperti blender. Oleh karena itu, banyak ibu-ibu rumah tangga di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat yang lebih memilih menggunakan Munthu Batu atau Ulekan Batu untuk memasak sehari-hari.

Sebagai contoh, Ietje S Guntur dalam blognya menyatakan bahwa, meskipun sebagai bidadari, ia lebih suka menggunakan cobek dan ulek-ulek batu daripada alat modern lainnya. Menurutnya, bumbu yang diulek di dalam cobek dan ulek-ulek batu lebih menyatu rasanya, memberikan kelezatan yang tak tertandingi.

Munthu atau Ulekan Bumbu tidak lepas dari pasangannya, yaitu Cobek atau sering disebut Cowek, Cowet, Ciri. Keduanya adalah pasangan yang sempurna untuk menciptakan kelezatan alami dalam setiap hidangan tradisional Indonesia.

Related Tags

Tinggalkan Balasan

X