Cobek Batu Muntilan / Lumpang Gunung Merapi Beli Baru: Perlakuan dan Ciri Khas Yang Perlu Diketahui

Tulisan ini saya sampaikan sebagai jawaban atas seringnya pertanyaan yang disampaikan oleh para pelanggan tentang Cobek Muntilan atau Cobek dari Batu Gunung Merapi yang keliatan berbeda dengan cobek yang dimiliki oleh orang tua mereka atau saudara mereka atau teman mereka walaupun konon cobek yang dipakai juga berasal dari Batu Gunung Merapi atau dari MunThu.Com.

Cobek Batu Muntilan / Gunung Merapi Baru (Kiri) dan Lama (Kanan)

Cobek Batu Muntilan / Gunung Merapi Baru (Kiri) dan Lama (Kanan)

Pertama yang perlu diketahui adalah Cobek dibuat dengan peralatan sederhana semacam bubut dan alat pahat sederhana (tradisional). Ini artinya pahatan atau bubutan dari cobek merupakan hasil langsung dari batu Gunung Merapi yang dibentuk tanpa dilakukan sentuhan atau penambahan apapun.

Ciri Pertama: Air Meresap ke Dalam Batu dan Alasan kenapa tidak Meresap.

Ciri khas dari Batu Gunung Merapi atau Andesit Gunung Merapi yang bisa dipahat adalah tingkat kekerasan yang gak sekeras batu marmer atau granit atau batu kali. Cobek dari Batu Gunung Merapi juga masih menyisakan sedikit pori sehingga kalau disiram dengan air, air biasanya akan sedikit meresap ke dalam batu. Jika batu terlalu tipis bahkan cenderung bocor atau tembus ke dasar Cobek / Lumpang / Lesung.

Ciri khas ini banyak yang tidak diketahui oleh pembeli pemula. Terutama kalau dia hanya membanding dengan cobek yang sudah dipakai oleh orang tua atau familinya. Cobek yang dipakai oleh keluarga yang sudah lama dipakai memang tidak menunjukkan kalau cobek air meresap sampai tembus ke dasar. Kenapa Berbeda?

Hal ini dikarenakan Cobek Muntilan / MunTHu.Com yang sudah lama dipakai, pori-pori batunya sudah tertutup dengan garam dan berbagai bumbu yang pernah dihaluskan di dalamnya. Karena pori-pori yang sudah tertutup inilah air tidak lagi meresap ke dalam batu. Kalaupun meresap cuma sedikit dan tidak tembus ke batu.

Ciri Kedua: Warna Cobek Batu Muntilan / Gunung Merapi Kering dan Basah

Warna dari Cobek Merapi pada dasar dipengaruhi oleh bahan baku dari Batu Andesit Gunung Merapi itu sendiri. Sebagaimana pernah saya tuliskan, Batu Candi terdiri dari beberapa warna: Kemerahan, Hitam, Keabu-abuan, dsb. Secara khusus, batu yang bisa dibuat untuk cobek adalah yang cenderung ke arah kehitaman, kemerahan, kebiruan, dan keabuan.

Ada perbedaan signifikan dari warna batu ketika basah kena air dan ketika kering. Hampir semua cobek Muntilan, kalau kondisi kering warnanya keabu-abuan atau kehitam-hitaman (cenderung kearah biru muda) tapi tidak pernah ada yang sampai hitam pekat. Ini kalau benar-benar kering kondisi batunya.

Ketika batu yang berwarna keabuan atau kehitaman ini disiram dengan air maka warnanya berubah jadi hitam. Nah inilah yang sering tidak diketahui oleh para pengguna cobek pemula. Mereka tahunya kalau cobek itu berwarna hitam. Hal ini dikarenakan kalau cobek tiap hari dipakai di dapur, maka cobek itu basah terus dan warnanya hitam. Mereka tidak tahu kalau dalam kondisi baru dan kering batu itu warnanya hitam-keabuan.

Kalau warnanya tetep hitam pekat walaupun tetep kering, patut dicurigai kalau cobek sudah dilakukan proses pewarnaan. Biasanya cobek seperti ini berasal dari cetakan semen.

Ciri Ketiga: Cobek Batu Merapi Permukaan Halus & Kasar

Ini pengetahuan yang penting untuk diketahui mengenai permukaan cobek batu merapi. Ini juga berlaku untuk munthunya atau ulegannya serta untuk lumpang dan alu. Ulegan atau Cobek Batu Muntilan / Merapi, dalam kondisi baru permukaan dari cobek itu cenderung kasar. Sedemikian sehingga kalau antara cobek dan ulegannya diadu secara langsung (gerus langsung) maka akan timbul semacam lunturan. Ini adalah normal untuk Cobek kondisi baru.

Yang sering tidak dimengerti oleh para pembeli pemula adalah, cobek baru itu sudah seperti cobek lama. Padahal tidak demikian. Cobek yang sudah lama dipakai untuk menghaluskan berbagai bumbu, permukaannya akan halus. Jikapun diadu antara ulegan dan cobek, tidak akan ada lunturan yang begitu keliatan.

Jamur di cobek

Jika cobek telah digunakan untuk menghaluskan sambal atau bumbu beberapa kali, lalu dicuci dan kemudian cobek didiamkan selama beberapa hari (3-5 hari atau lebih) dalam kondisi basah dan lembab, maka kemungkinan besar jamur akan muncul di permukaan cobek. Jika ingin jamur tidak muncul, kalau mau menyimpan cobek dalam jangka waktu lama pastikan cobek dijemur atau dikeringkan dahulu dibawah sinar matahari, dan kemudian simpan di tempat yang tidak lembab.

Untuk menghilangkan jamur, cukup cuci dan sikat dengan sabun cuci piring sampai bersih 2 atau 3 kali, dan cobek sudah siap digunakan kembali. Jika anda menginginkan Cobek yang cukup tahan terhadap jamur, Cobek dari Batu Kali dengan kerapatan tinggi yang hampir tidak ada pori pilihannya.

Perlakuan Untuk Cobek / Lumpang / Ulegan / Alu Baru buatan MunTHu.Com yang perlu diketahui

  • Cobek Baru atau ulegan baru perlu dicuci terlebih dahulu sebelum digunakan. Hal ini diperlukan guna menghilangkan kotoran dari perjalanan pengantaran atau sisa packingan kayu.
  • Cobek digunakan harus dengan bumbu. Direkomendasikan cobek / lumpang pertama kali digunakan untuk menghaluskan beras atau garam. Jangan diadu / digerus langsung antara cobek dan ulegan tanpa ada bumbu. Ini untuk menghidari lunturan karena permukaan masih kasar
  • Jika digunakan tiap hari, dalam kurun waktu 2-4 minggu, Cobek akan halus dan enak dipakai.

Tentang Cobek Batu Kali dan Sejenisnya:

Cobek Batu Keras: Dibuat Ulir-ulir biar tidak licin

Cobek Batu Keras: Dibuat Ulir-ulir biar tidak licin

#1 Menggunakan Cobek dari Batu kali hanya enak diawal-awal pemakaian. Untuk pemakaian lama, cobek batu kali terlalu halus permukaannya dan susah buat menghaluskan bumbu karena licin.

Pernah lihat cobek batu sampai dibuat ulir-ulir bulat dipermukaannya? Nah itu karena batunya terlalu keras dan halus sehingga licin, lalu dibuat ulir-ulir biar gak licin. Walaupun ini malah bikin batunya jadi cuil-cuil kalau diuleg. Pada akhirnya juga nanti licin lagi dan gak enak buat nguleg. Gambar diatas contoh cobek yang keras sehingga licin permukaannya, maka dari itu dibuat ulir-uliran biar tidak licin.

Cobek Batu Kali Pending

Cobek Batu Kali Pending

Contoh lain batu kali asal daerah pending adalah warna batunya cenderung keputihan / kebiruan dalam kondisi kering ( kecoklatan, kehitaman, kebiruan dalam kondisi basah) dan rapat. Karena keras, cara buatnya pun memerlukan waktu lama, sehingga harganya pun lebih mahal dari batu candi. Beberapa jenis Cobek kali, karena keras, bahkan kalau dijatuhkan ke tanah atau lantai tidak mudah pecah. Sebagai contoh Cobek Kali daerah Ambarawa Semarang merupakan cobek kali yang tidak mudah pecah kalau dijatuhkan. Cobek Batu kali juga cukup tahan terhadap serangan jamur.

Untuk Cobek Batu Kali Harganya lebih mahal dibanding Cobek Batu Gunung. (klik tautan jika ingin tahu harga dan bentuknya)

Contoh Cobek Batu Kali

Contoh Cobek Batu Kali: Licin dan Halus Permukaan setelah dipakai jangka waktu lama

Dalam pemakaian jangka panjang, batu kali seperti gambar dibawah ini juga jadi licin dan gak begitu enak buat menghaluskan bumbu. Hal ini disebabkan karena permukaan batu yang keras kalau digosok terus-menerus akan membuat permukaan yang sebelumnya kasar menjadi halus. Ini mirip dengan batu akik kenapa bisa jadi halus permukaannya karena batu akik merupakan batuan yang keras.

#2 Jika memaksa pakai Cobek Batu kali, pastikan ulegannya bukan dari batu kali, tapi batu andesit Gunung Merapi. Anda bakalan lebih enak menghaluskan bumbu karena tidak begitu licin.

Dan tentu saja sebelum membeli anda harus memastikan kalau cobek batu candi atau cobek gunung merapi ini kualitasnya benar-benar bagus. Baca Tip dan Trik membeli cobek Merapi disini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *