Mencari, Menggali, dan Mendapatkan Batu Candi (Batu Alam) Gunung Merapi untuk Kerajinan

Berikut ini beberapa cerita seputar gimana Batu Candi bisa didapatkan dan kenapa Batu Candi tidak mudah mendapatkannya.

Gunung Merapi Meletus dan Lahar Dingin

Waktu terjadi banjir lahar dingin Gunung Merapi tahun 2010 dulu, sebagian masyarakat yang berkerja sebagai pengrajin pahat batu punya semacam gawean baru. Disamping Kali putih di Srumbung yang terkena lahar dingin, yang sering nongol di berita-berita nasional, ada juga kali Pabelan yang sampai meluap itu banjirnya, jembatan-jembatan putus semua, kecuali 1 jembatan di prumpung. itupun ambruk separuh

Batu Alam / Batu Candi Hasil Galian untuk Bahan Baku Kerajinan Batu dari Lereng Gunung Merapi

Batu Alam / Batu Candi Hasil Galian sebagai Bahan Baku Kerajinan Batu dari Lereng Gunung Merapi

Jangan dikira banjir lahar dingin ini macam banjir di Jakarta. Banjir Lahar dingin ini membawa Batu-batuan yang ukurannya ada yang sebesar truk atau bahkan rumah. Nah batu-batuan ini ikut serta terbawa banjir lahar dingin beserta air dan pasirnya. Menggelinding bak bola.

Pekerjaan sampingan yang saya maksud itu berhubungan dengan Batu-batu ini. Adakalahnya yang terbawa banjir ini selain batu kali yang biasa kita temua berukuran besar ada pula yang berupa Batu yang bisa buat bahan baku kerajinan batu. Batu inilah yang dicari oleh pengrajin. Kalau beruntung menemukan batu Candi ini, pengrajin bisa mendapatkan bahan baku secara gratis.

Walaupun tidak banyak Batu Candi yang terbawa arus banjir lahar, tapi lumayan kalau dapat. Oleh sebab itu mereka berburu mendapatkannya. Sekali ada, langsung diklaim dan diambil. Harganya mahal.

Batu Alam dari Kali Putih dan Kali Pabelan

Ketika terjadi Banjir Lahar Dingin, dua sungai (kali) yang menampung banjir lahar dingin di daerah Muntilan dan Salam (Barat Gunung Merapi) adalah Kali Pabelan dan Kali Putih (Sungai Pabelan dan Sungai Putih). Sebagaimana dijelaskan diatas kalau pada waktu itu terdapat batu alam yang ikut kena arus dan mudah diambil, sekarang ini juga masih tetep dilakukan pencarian batu alam yang di kedua sungai ini. Tentu tidak semudah dahulu.

Batu alam yang terangkut Lahar dingin di Kali Putih dan Kali Pabelan ini musti “digali” juga untuk mendapatkannya sekarang ini. Walaupun proses penggaliannya tidak seberat menggali di lereng gunung (berupa lahan tanah). Hanya saja Tipe Batu Alam yang digali di kedua sungai ini tekturnya halus, lumayan keras dan kuat, sehingga tidak cocok digunakan untuk bahan semacam lampion, air mancur, atau lampu (yang perlu dilubangi secara manual, karena keras maka sangat sulit melubangi batu alam jenis ini). Akan tetapi sangat cocok untuk dijadikan batu gergajian atau RTM-an (tegel atau lantai). Batu Alam di kedua sungai ini juga cocok untuk list profile, relief, atau meja kursi karena tidak gampang “gropel” atau “cuil”.

Mencari dan Menggali Batu Candi / Batu Alam di Lereng Gunung Merapi

Jangan dikira batu candi yang dibuat sebagai bahan baku Kerajinan Batu itu berasal dari kali-kali. Semacam kita menyusuri kali terus menemukan batu. Itu semua batu candi udah habis diambil dari kali (sungai).

Lalu dari mana mendapatkannya? Dulu sih, orang mendapatkannya secara manual dengan menusuk-nusuk lahan (ladang atau kebon) dengan linggis, kalau linggis menyentuh batuan yang bisa dikira-kira agak besar, lalu digalilah itu tanah dan kebon. Dan kalau beruntung didapatkan batu candi di dalamnya. Semacam kita mencari harta karun yang disembunyikan di dalam tanah. Kalau gak beruntung ya cuma dapat batu “kali” yang cuma bisa buat pondasi rumah, campuran buat ngecor dan sejenisnya. Gak mahal ini mah, murah.

Kalau ada orang yang bisa mendapatkan batu candi berukuran besar 2 meter atau lebih, orang itu bisa KAYA MENDADAK.

Tapi itu dulu.

Seiring berkembangnya jaman, dan nafsu ekonomi orang dengan modal besar, maka sekarang mencari batu candi menggunakan Eskavator atau kalau orang-orang sering menyebutnya bego (back hoe, walau ini salah sebenarnya).

Nah lahan yang digali ini tidak lagi sekedar ladang, tapi bukit-bukit di lereng merapi, eskavator ini menggali sampai dalam, demi mencari ‘berlian’. Berliannya ini ya batu candi itu sendiri. Sebenarnya ini sangat merusak. Lahan jadi rusak parah sekarang karena adanya ekavator ini. Di lereng-lereng terjal gunung merapi, si bego ini bahkan mampu ‘mendaki’. Dia mendaki dan menggali, sampai bermeter-meter dalamnya, sesuatu yang tidak mungkin dilakukan dengan cara manual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *